https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/issue/feedJournal of Mental Health and Social Rehabilitation2026-09-29T23:24:30+07:00Dr. Muhammad Ali Equatora, A.Ks., M.Sijmhsreditor@gmail.comOpen Journal Systems<p style="text-align: justify;">Journal of Mental Health and Social Rehabilitation (JMHSR, <a href="https://issn.brin.go.id/terbit?search=3026-6181">E-ISSN 3026-6181</a>) is an national journal published by Politeknik Ilmu Pemasyarakatan, Indonesia. It covers all areas of criminal, social, psychology, public administration, management, education, and government law. Its global readership includes educational, teachers, students and others with a professional or personal interest in Correctional Science. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. JMHSR provides open access to scientific articles by adhering to the principle that making research freely available to the public will support the exchange of knowledge globally. Please send your articles in menu <a href="https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/about/submissions">Submissions,</a> before that you must <a href="https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/user/register?source=">register</a> and <a href="https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/login">Login</a> as author.</p>https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/article/view/798REALITAS PSIKOLOGIS NARAPIDANA BARU DALAM PROSES PENYESUAIAN DIRI DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN2026-09-29T23:15:04+07:00irwan Manjalo Panggabeanirwanmanjalo@gmail.com<p>Masuk ke lembaga pemasyarakatan menjadi fase transisi yang signifikan dalam kehidupan seseorang karena menuntut perubahan pola hidup, hubungan sosial, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.untuk mengkaji realitas psikologis narapidana baru dalam proses penyesuaian diri di lembaga pemasyarakatan melalui metode studi kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses adaptasi dipengaruhi oleh perubahan status sosial, hilangnya kebebasan, kondisi lingkungan pemasyarakatan, dukungan sosial, dan program Masa Pengenalan Lingkungan. Program tersebut membantu narapidana memahami aturan, hak, kewajiban, dan kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan. Pembinaan dan dukungan sosial juga mendukung proses penyesuaian diri serta reintegrasi sosial.</p>2026-09-29T23:10:35+07:00##submission.copyrightStatement##https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/article/view/794PENGEMBANGAN IMPLEMENTASI REHABILITASI BERBASIS ONE STOP SERVICE BAGI NARAPIDANA NARKOBA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN INDONESIA2026-09-29T23:18:57+07:00Almas Tomy Wibowoalmastomyw86@gmail.com<p>Correctional institutions (prisons) in Indonesia are facing overcrowding, with more than 54 percent of their population consisting of inmates convicted of drug-related offenses. This condition has encouraged the Ministry of Immigration and Corrections (Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan/Kemenimipas) to launch the One Stop Service (OSS) Correctional Rehabilitation Program in 2025 as an integrated rehabilitation approach that combines medical, psychological, and social services within a single service process. This paper aims to analyze the concept, implementation, and challenges of the OSS Rehabilitation Program by referring to the research of Hartini and Sutoyo (2024) on rehabilitation innovation strategies implemented by the National Narcotics Agency (BNN) in Jakarta, which employed a SWOT analysis. Through a literature review and policy analysis approach, this study finds that the OSS Rehabilitation Program has considerable potential to reduce recidivism. However, strengthening the capacity of rehabilitation personnel, establishing standardized service flow guidelines, and improving inter-agency coordination are necessary to achieve optimal outcomes.</p>2026-09-29T23:11:52+07:00##submission.copyrightStatement##https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/article/view/777SMART REHABILITATION: PEMBINAAN NARAPIDANA MELALUI VIRTUAL REALITY EMOTIONAL THERAPY UNTUK PENGENDALIAN EMOSI DAN REINTEGRASI SOSIAL NARAPIDANA2026-09-29T23:15:04+07:00Risky Abady Siregarriskyabady343@gmail.com<p>Overcrowding lembaga pemasyarakatan Indonesia yang mencapai 85 persen di atas kapasitas serta angka residivisme yang berkisar 14–45 persen mencerminkan kegagalan program pembinaan konvensional dalam menjangkau akar psikologis perilaku kriminal. Kondisi ini diperparah oleh keterbatasan SDM pemasyarakatan, dengan rasio petugas-narapidana 1:34 dan hanya 9 persen ASN yang pernah mengikuti penilaian kompetensi. Tulisan ini mengusulkan program SMART REHABILITATION, yaitu pembinaan narapidana berbasis Virtual Reality Emotional Therapy (VRET) yang diintegrasikan dengan kerangka Cognitive Behavioral Therapy untuk memperkuat regulasi emosi, empati, dan kesiapan reintegrasi sosial. Berlandaskan bukti internasional seperti VRAPT dan program VR di Catalonia, VR diposisikan sebagai force multiplier yang melipatgandakan kapasitas intervensi SDM terbatas. Implementasi program ini menghadapi tantangan anggaran, infrastruktur, kompetensi SDM, dan resistensi kelembagaan yang memerlukan strategi mitigasi komprehensif.</p>2026-09-29T23:12:49+07:00##submission.copyrightStatement##https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/article/view/771DESAIN PFA BUDDY SYSTEM UNTUK MANAJEMEN STRES DAN RESILIENSI PETUGAS PEMASYARAKATAN2026-09-29T23:24:30+07:00Maliq fajar setiawan poetramaliqfajarsp2@gmail.com<p>Correctional officers work in a high-stress environment characterized by intensive interaction with incarcerated people, security risks, administrative demands, workload imbalance, and situational uncertainty. This article develops a contextual Psychological First Aid (PFA) Buddy System as an internal peer-support model for stress management and resilience enhancement among correctional officers. A conceptual literature review was conducted by synthesizing PFA principles, stress and coping theory, resilience literature, burnout studies, and correctional workforce conditions. The synthesis proposes a structured model consisting of organizational preparation, buddy pairing, routine Look-Listen-Link interactions, early identification of psychological distress, professional referral, and periodic monitoring. The model emphasizes confidentiality, role boundaries, voluntary supportive communication, and leadership commitment. PFA Buddy System is expected to strengthen social support, reduce prolonged stress, improve adaptive coping, and build individual and collective resilience. Sustainable implementation requires training, clear procedures, referral pathways, workload-sensitive scheduling, and continuous evaluation.</p>2026-09-29T23:13:55+07:00##submission.copyrightStatement##https://journal.poltekip.ac.id/jmhsr/article/view/762EMBODIED PERSPECTIVE-TAKING BERBASIS VIRTUAL REALITY IMERSIF: PENDEKATAN NEUROPSIKOLOGIS UNTUK REKONSTRUKSI KAPASITAS EMPATI PADA PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN2026-09-29T23:15:05+07:00Jihan Farhanah Ramadhanijihanfarhanah010@gmail.com<p>Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu bentuk tindak pidana yang menimbulkan dampak fisik, psikologis, dan sosial bagi korban. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya KDRT adalah rendahnya kapasitas empati pelaku dalam memahami perasaan dan pengalaman korban. Program pembinaan yang dilaksanakan di lembaga pemasyarakatan perlu mengakomodasi upaya rehabilitasi yang mampu menyentuh aspek psikologis pelaku guna mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan. Penulisan ini bertujuan untuk mengana lisis urgensi rekonstruksi kapasitas empati pada narapidana pelaku KDRT, mendeskripsikan konsep <em>Embodied Perspective Taking</em> berbasis <em>Virtual Reality</em> imersif dengan pendekatan neuropsikologis, serta menjelaskan mekanisme implementasi dan manfaat program tersebut dalam mendukung rehabilitasi narapidana. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (<em>library research</em>) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui penelaahan berbagai sumber ilmiah, peraturan perundang-undangan, buku, dan hasil penelitian yang relevan. Data dianalisis secara kualitatif untuk mengidentifikasi kebutuhan rehabilitasi pelaku KDRT dan mengkaji potensi penerapan teknologi <em>Virtual Reality</em> dalam sistem pemasyarakatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan <em>Embodied Perspective-Taking</em> berbasis <em>Virtual Reality</em> imersif berpotensi menjadi inovasi pembinaan yang mampu meningkatkan kapasitas empati narapidana melalui pengalaman simulasi dari sudut pandang korban. Program ini dilaksanakan melalui tahapan asesmen, orientasi, simulasi virtual, refleksi, konseling, dan evaluasi perubahan perilaku. Pengalaman yang diperoleh selama simulasi memungkinkan narapidana memahami dampak emosional dan psikologis yang dialami korban sehingga mendorong terbentuknya kesadaran dan perubahan perilaku yang lebih positif. Implementasi program ini juga berpotensi mendukung keberhasilan rehabilitasi dan reintegrasi sosial narapidana setelah kembali ke masyarakat.</p>2026-09-29T23:14:47+07:00##submission.copyrightStatement##